RELEVANSI PENGEMBANGAN SMK DI PESANTREN DALAM MENGHADAPI PERSAINGAN GLOBAL

RELEVANSI PENGEMBANGAN SMK DI  PESANTREN DALAM MENGHADAPI PERSAINGAN GLOBAL 

“Perpaduan antara keunggulan soft skill yang dimiliki pesantren dan keunggulan life skill yang dimiliki SMK akan menjadi solusi pendidikan yang adaptif dalam menghadapi persaingan global saat ini”

Oleh: Ahmad A. Qiso, S.Pd

Indonesia memasuki milanium ketiga ini (Dhofier, 2009: 126-127), telah dinobatkan sebagai anggota kelompok negera-negara G20 (negara-negara yang diperdiksi akan memiliki kemampuan ekonomi yang kuat). Di samping itu, sebagaimana disampaikan National Intelligence Council, AS (2008) kepada Presiden Barrack Obama, Indonesia diperhitungkan akan mucul sebagai salah satu dari enam negara “super power” pada tahun 2025. Akankah hal ini benar-benar terjadi? Jawabannya terletak pada ketinggian kualitas para generasi penerus sekarang ini.

Menurut hemat penulis, untuk meningkatkan kualitas dan daya saing SDM bangsa Indonesia, maka salah satu srateginya adalah dengan mendirikan SMK. Adapun pesantren dengan keunggulan soft skill (kesadaran yang membuat seseorang termotivasi dan pantang menyerah sehingga bisa menempatkan diri di tengah orang lain secara proporsional) yang dimilikinya akan menjadi sangat relevan jika dipadukan dengan SMK yang memiliki keunggulan life skill (kemampuan untuk berperilaku yang adaptif dan positif yang membuat seseorang dapat menyelesaikan kebutuhan dan tantangan sehari-hari dengan efektif)Hal ini akan menjadi solusi pendidikan yang adaptif terhadap perkembangan zaman dan mampu ikut berkontibusi melakasankan amanat UUD 1945 yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa.

Dalam rentang panjang perjalanan pesantren, ia telah memberikan kontribusi besar kepada bangsa ini, terutama dalam membina spritual keberagamaan dan akhlak al-karimah masyarakat. Namun, penulis berasumsi bahwa jangan sampai kita selalu bernostalgia dengan keberhasilan itu, karena harapan terhadap kontribuasi pesantren  saat ini lebih besar dari itu. Di samping pesantren dituntut untuk mampu melahirkan manusia yang mantap imannya, dan baik akhlaknya, ia juga telah dibebani tugas untuk mampu melahirkan manusia-manusia yang cakap kemampuannya (unggul dan kreatif).

Adapaun Relevansi Pengembangan SMK di lingkungan pesantren didasarkan atas beberapa hasil analaisis berikut:

Analisi Yuridis

Sebagaimana dijelaskan dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 bahwa SMK memiliki tujuan umum dan khusus. Inti dari tujuan umum dan khusus tersebut adalah bahwa pendidikan kejuruan harus mampu melahirkan generasi yang mantap imannya, baik moralnya, dan cakap kemampuannya.

Ketiga hal di atas tanpa disadari termanifestasi dalam pendidikan pesantren, karena pesantren sebagai pendidikan khas Indonesia, memiliki potensi besar untuk mencetak generasi yang mantap imannya, baik moralnya, dan cakap kemampuannya, karena di dalam pesantren santri selalu dibiasakan untuk taat beribadah dan bersikap sopan-santun (moralitas), di samping itu, santri juga sudah terbiasa hidup mandiri dan penuh perjuangan (daya juang).

Moralitas santri akan terwujud dengan berbagai cara, antara lain: (1) ajaran agama yang setiap hari diperdengarkan di lingkungan pesantren; (2) ritual peribadatan yang menjadi sebuah budaya, baik dilakukan secara individual maupun secara berjamaah; (3) keteladanan dari figur-figur sentral di pesantren; (4) aturan-aturan (tata tertib) pesantren yang sebanarya merupakan pengejawantahan dari aturan-aturan dalam ajaran Islam.

Watak kemandirian akan diperoleh di pesantren, karena di pesantren para santri mengatur hidupnya secara mandiri. Jika di rumah ada orang tua yang mengurus segala keperluan anaknya, maka jika telah ada di pondok pesantren, santri harus mengurusnya secara mandiri.

Daya juang akan terpatri pada jiwa santri dengan beratnya perjuangan yang harus dihadapi di pondok pesantren. Kebiasaan hidup sederhana juga merupakan salah satu aspek yang juga membantu lahirnya santri yang memiliki jiwa daya juang yang tinggi.

Analisis Teoritis

Menurut Akbar S. Ahmed dan Ernest Geller yang dikutip Jamali (dalam Pesantren Masa Depan: Wacana Pemberdayaan dan Transformasi Pesantren, 1999: hlm. 143-144), sesungguhnya dalam peradaban modern, Islamlah yang lebih siap menghadapi tantangan moderenisasi. Begitu juga dalam tradisi Islam ada kaidah “al-muhafazhah ‘ala al-qadim ash-shalih wa al-akhdz bi al-jadid al-ashlah” (artinya: mempertahankan nilai-nilai lama yang baik dan mengambil nilai-nilai baru yang lebih baik). Hal ini menunjukkan bahwa pesantren sebagai sub-kultur pendidikan nasional yang berbasis agama Islam, maka sangat relevan bagi pesantren untuk mendirikan SMK.

Namun, untuk lebih siap dalam mengadapi tantangan moderenisasi ini, Pesantren harus mampu mengatualisaikan tiga paradigma besar pengetahuan dalam Islam berikut. Pertama, adalah paradigma sains. Pengetahuan ini diperoleh secara metode logis-empiris. Hasilnya dalah pengetahuan sains; Kedua, paradigma logis, yaitu mencari pengetahuan pada obyek-obyek abstrak tetapi logis. Yang diperoleh dengan metode logis. Hasilnya adalalah pengetahuan filsafat; ketiga, paradigma mistik, yaitu suatu cara memperoleh pengetahuan tentang obyek-obyek abstrak supralogis, dengan hati (rasa). Hasilnya adalah pengeatahuan tasawuf. Menurut Tafsir (2014: 204-205), bila pesantren mampu mengambil ketiga paradigma ini, maka nilai-nilai lama yang positif akan bertahan pada pesantren, sementara nilai baru akan terseleksi; pesantren tidak akan gugup menghadapi arus globalisasi. Bahkan paradigma kedua memberikan kemungkinan pada pesantren agar mampu tidak hanya sekedar sebagai filter budaya melainkan mampu menjadi perekayasa dan pengontrol budaya.

Analisis Empiris

Memasuki era globalisasi dengan perdagangan bebasnya menurut Tilaar (1998: 408) diperlukan sumber daya manusia yang berkualitas. Sumber daya manusia yang kita inginkan ialah manusia yang melek IPTEK, tentunya melek IPTEK yang tetap memegang nilai-nilai moral, disamping itu juga manusia yang melek digital.

Menurut UNDP (United Nation Development Program) pengembangan sumber daya manusia tidak lain ialah memperluas horizon pilihan bagi rakyat banyak. Hal ini berarti manusia itu diberdayakan untuk melihat dan memilih sesuatu yang bermanfaat baginya. Kemampuan untuk memilih bukanlah hal yang sepele oleh karena apabila seseorang tidak memperoleh pendidikan, kesehatannya tidak memadai, hidup di permukiman yang kumuh, dan hidup dalam kemiskinan, maka horizon pilihannya akan sangat terbatas. Manusia yang cerdas, yang sehat, yang hidup di dalam permukiman yang layak, yang bergizi, tentu mempunyai kemampuan atau keberdayaan mengadakan pilihan yang lebih baik bagi hidupnya. Manusia yang berdaya adalah manusia yang dapat memilih dan mempunyai kesempatan untuk mengadakan pilihan. Artinya juga bahwa di dalam masyarakat terdapat atau tersedia banyak pilihan. Manusia yang dapat memajukan pilihan-pilihan dan yang dapat memilih adalah manusia dan masyarakat yang berkualitas (lihat, Tilaar, 1998: 408-409).

Jika berangkat dari pandangan di atas, maka sangat relevan bagi pesantren untuk mendirikan SMK sebagai upaya untuk ikut serta memperluas horizon pilihan bagi santri untuk memilih dan mendalami keahliannya masing-masing.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *