Refleksi atas realitas pendidikan: Apasih sebenarnya tugas seorang guru? Mendidik atau menghakimi?

Refleksi atas realitas pendidikan:

Apasih sebenarnya tugas seorang guru? Mendidik atau menghakimi? 

Oleh: Ahmad A. Qiso

Mengawali tulisan yang mungkin tak penting ini, saya mencoba menyampaikan sebuah contoh kasus:

 “Ketika jam pelajaran berlangsung, ada seorang siswa yang izin keluar kelas, dan ternyata sampai akhir pelajaran siswa ini belum masuk kelas lagi. Ada seorang siswa yang mengatakan bahwa siswa tersebut biasanya  bolos sekolah terus pulang dan tidur di kost karena setiap malam bergadang bersama teman-temannya”

Sangat berkemungkinan besar bahwa bagi guru yang mengadapi kasus tersebut langsung menilai bahwa anak tersebut merupakan anak nakal, bandel, males-malesan, dan diberikan hukuman.

Sikap yang diambil guru di atas lebih beorientasi pada “menghakimi” bukan “mendidik”. Tidak bisakah kita menjadi guru yang mendidik, bukan menghakimi. Kita toh bukan polisi yang memang bertugas menghukum, juga bukan hakim yang memang menghakimi. Kita adalah pendidik yang tugasnya adalah mendidik.

Perluh kita ingat bersama-sama bahwa dalam undang-undang telah jelas dinyatakan bahwa tugas utama guru adalah mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik. Tidak satu katapun yang menunjukkan bahwa tugas guru adalah “menghakimi siswa”. Terkadang kita sebagai guru langsung memberikan hukuman kepada siswa yang melanggar, bahkan daftar hukuman sudah tertulis rapi sesuai dengan tingkat pelanggarannya masing-masing.

Apakalah cara yang di atas salah?

Tidak sepenuhnya salah. Namun hal yang terpenting perluh dilakukan guru adalah bagaimana meminimalisir potensi siswa melanggar dan mengulangi perbuatannya lagi.

Misalnya dalam menghadapi kasus di atas, sebelum menentukan hukumannya kita sebagai guru hendaknya mencaritahu lebih dahulu dan  menanyakan hal hal tersebut kepada siswanya. Bisa jadi setelah kita mengetahui permasalahannya hukuman yang tadinya berat bisa menjadi ringan atau bahkan tidak diberikan hukuman sama-sekali. Guru telebih dahulu perluh menanyakan mengapa dia suka bergadang? Dan mengapa ketika jam pelajaran pulang ke kamar dan tidur?. Perluh kita juga menayakan apa manfaatnya ia bergadang? Dan tanyakan kepadanya apa dampaknya jika dia males-malesan belajar?. Biarkan jawaban-jawaban dari pernyataan tersebut keluar dalam mulutnya sendiri. Secara psikologis hal ini akan semakin menumbuhkan kesadarannya.  Berikutnya, setelah siswa tersebut memberikan penjelasan, barulah kita berikan nasehat agar tidak mengulanginya lagi dengan cara yang bijak dan penuh kasih sayang serta tidak memberikan beban yang berat kepada siswa. Yakinlah dengan cara ini, siswa tersebut tidak akan mengulangi perbuatannya lagi.

Mengapa hal di atas penting?

Karena pada usia sekolah, para ahli bersepakat bahwa usia tersebut merupakan usia pencarian jati diri, usia dimana mereka masih membutuhkan bimbingan, arahan, dan didikan. Prilaku yang muncul pada prinsipnya bukanlah termasuk kategori nakal, sebab secara psikologis pada usia ini selalu mendambakan pujian dan perhatian. Kejiwaan mereka didominasi oleh rasa ingin tahu dan selalu mencoba sesuatu yang baru, sehingga kadangkala membuat mereka menjadi ceroboh.

Dari kasus tersebut saya menilai ada dua kesalahan yang sering terjadi pada diri guru, yaitu:

Pertama: “Berpikir untuk langsung memberikan hukuman saat siswa melanggar”.

Disiplin dan ketegasan dalam mendidik, tentu sangat perluh diterapkan, namun tidak berarti harus menggunakan kekerasan ataupun hukuman non-fisik yang memberatkan. Hal yang terpenting adalah bagaimana  guru mampu  mendekati siswa bukan untuk dihukum tapi untuk dididik? Dan bagaimana guru mampu membuat siswa menagis bukan karena dipukul atau hukumannya terlalu berat melainkan karena disentuh hatinya?. Yakinlah dengan cara ini, dari siswa yang bejad akan menjadi beradab, dari males-malesan akan menjadi rajin. Dengan cara ini juga, guru akan menjadi sangat dihormati dan dipatuhi seluruh perintah dan larangannya oleh siswa. Namun hal ini tentu juga tidak bisa lepas dari ketauladanan seorang guru tersebut.

Kedua: “Ah pasti siswa ini akan mengulangai perbuatannya lagi”

Itulah kesalahan kedua yang sering kita temui. Terkadang kita cendrung berpikir negatif dan terkesan tak memiliki harapan terhadap siswa tesebut. Padahal kecendrungan untuk selalu berpikit positif  “bahwa setiap siswa yang melanggar pasti ada potensi untuk berubah” itu sangat penting.  Orang yang selalu berpikir positif, niscaya kehidupannya akan diliputi optimisme. Hari-harinya penuh dengan senyuman dan rasa gembira serta disenangi orang lain.  Hal ini tentu akan sangat berdampak terhadap cara ia mendidik dan membimbing siswanya serta cara siswa bersikap kepada gurunya.

Buah dari model guru yang “mendidik” bukan “menghakimi” adalah:

Buah dari pendidikan itu baru akan dipetik di masa depan. Ibarat menanam pohon. Jika sejak awal akar-akar nya keropos, malah disiram dengan pupuk kekerasan, ketidakjujuran, kecurangan, besok lusa buahnya akan pahit dan merusak. Tapi jika sejak awal akar-akar nya kokoh, disiram dengan integritas dan kasih sayang mendidik, meski sekarang tidak terlihat dahsyat, besok lusa justeru buah yang akan dipetik terasa manis dan bermanfaat. Dari mana sih datangnya siswa-siswa yang  jujur? Siswa-siswa yang peduli? Siswa-siswa yang bermanfaat?. Siswa-siswa seperti ini tidak datang dari proses sim salabim, muncul dari kotak. Tapi ia lahir dari sebuah proses pendidikan yang didominasi optimisme dan sikap postif seorang guru, ia mendidik dengan berlandaskan cinta dan kasih sayang, dan ia juga memahami perannya secara tepat bahwa tugasnya adalah “mendidik” bukan “menghakimi”. Saya rasa apabila cara-cara ini yang diapakai guru, maka tak akan ada lagi siswa yang dipanggil orang tuanya atau bahkan dikelurkan dari sekolah karena melanggar.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *