Pesantren dalam Percaturan Globalisasi

Pesantren Dalam Percaturan Globalisasi: Eksistensi Pesantren Sebagai Institusi Pendidikan dan Transformasi Sosial

Oleh : Ahamad A. Qiso*

Kunci keberhasilan pesantren dalam percaturan globalisasi adalah terletak pada kemauan dan kerja cerdas dari stakeholder-nya untuk mempertahan tradisi pesantren dan keterbukaan terhadap perkembangan zaman”

مُحَافَظَةُ عَلَى قَدِيْمِ الصَّالِحْ وَالْاَ خْذُ عَلَى جَدِيْدِ الْاَ صْلَحْ

memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik”

 

Pesantren selalu menarik untuk dikaji dan diteliti, sebagai sub-sistem pendidikan nasional. Pesantren pada dasarnya adalah sebuah asrama pendidikan Islam tradisional untuk mempelajari, memahami, mendalami, menghayati, dan mengamalkan ajaran Islam dengan menekankan pentingnya moral keagamaan sebagai pedoman perilaku sehari-hari (Mastuhu, 1994: 55). Namun dalam perkembangan terakhir, telah terjadi berbagai transformasi dalam dunia pesantren, dengan lahirnya beberapa pesantren “modern” seperti pesantren Gontor Ponorogo, Al-Falah Ciampea Bogor, Darun Najah dan Asyiddiqiyah Jakarta,  Al-Mutawaffiyah Purba Baru Tapanuli Selatan, dan Al Ittifaqiah Indralaya Ogan Ilir Sumatera Selatan. Di lembaga-lembaga ini, teknologi, bahasa asing, dan berbagai disiplin ilmu modern telah diajarkan.

Sejarah Awal Kelahiran Pesantren

Pendidikan pesantren secara terminologis dapat dijelaskan bahwa di lihat dari segi bentuk dan sistemnya, berasal dari India. Sedangkan Soergarda Poerbakawatja menyebut persamaan pesantren dengan tradisi hindu bisa di lihat dari penyerahan tanah oleh negara bagi kepentingan agama. Hal ini tidak dijumpai dalam Pendidikan Islam di Mekkah (Karel A. Steenbrink, 1994:20-21). Namun, pendapat ini sebagaimana dikutip Steenbrink dari Soebardi (dalam bukunya “santri religious elements”) yang mengatakan bahwa pernyataan yang menyatakan pendidikan Islam berasal dari Hindu bukan Islam, ternyata kurang tepat, sebab sistem tersebut dapat ditemukan dalam dunia Islam. Senada dengan Soebardi, Mahmud Junus mengatakan bahwa sistem pembelajaran di pesantren, ternyata dapat diketemukan di Bagdad ketika menjadi pusat dan ibu kota wilayah Islam. Menurut Steenbrink, begitupan dalam penyerahan tanah oleh negara sebagai Pendidikan agama, dapat ditemukan dalam sistem wakaf di Islam (Karel A. Steenbrink, 1994:22).

Adapun Asal-usul pesantren di Indoneisa tidak bisa dipisahkan dari sejarah pengaruh Walisongo pada abad 15-16 di Jawa (Abdurrahman Mas’ud, 2002:3). Hal ini terlihat bahwa dikalangan masyarakat santri sampai kini Walisongo mereka jadikan sebagai kiblat kedua setelah Nabi. Approach dan wisdom Walisongo kini terlembagakan dalam esensi budaya pesantren dengan kesinambungan  ideologis dan kesejarahannya, seperti kesalehan sebagai cara hidup kaum santri, serta pemahaman dan pengarifan terhadap budaya lokal (Mas’ud, 2002:28).

Medium pendidikan pesantren Walisongo yang cepat membumi di Indonesia menjadi fenomena tersendiri bagi keberadaan pesantren yang dapat menjelaskan elan vital peran pesantren tatkala melahirkan kader-kadernya untuk dipersiapkan memasuki segala sistem kehidupan masa itu (Saefudin Zuhri, 1999: 202). Trdisi keilmuan yang dikembangkan oleh Walisongo, pada abad 19 melahirkan ulama-ulama besar Jawa yang berhasil menjadi guru utama di Mekkah dan Madinah, yaitu Nawawi al-Bantani (meninggal 1897) dan Mahfudz al-Tirmisi (meninggal 1919). Setelah dua ulama besar tersebut, lahirlah ulama-ulama besar di Jawa, seperti Khalil Bangkalan (meninggal 1924), Hasyim Asy’ari (meinggal 1947), dan Asnawi Kudus (meninggal 1959). Dan lahir pula umara yang menjadi simbol mujahidin Jawa dan contoh terbaik bagi kaum santri, yaitu Pangeran Diponogoro (1785-1855) (Mas’ud, 2002: 16-22). Pada akhir abad 20 dari tradisi pesantren lahirlah ulama dan ktikus yang ikut terlibat dalam collapse-nya Soeharto, yaitu Abdurrahman Wahid (sejak 20 Oktober 1999 sampai 23 Juli 2003 menjadi presiden RI), Amien Rais (menjadi ketua MPR RI  tahun 1999-2004), Nucholish Madjid (sempat menjadi bakal calon presiden pada pemilihan umum 2004), dan Emha Aninun Nadjib (seorang kiyai, budayawan, dan kritikus).

Fakta di atas menunjukkan bahwa tradisi dasar pesantren tidak hanya berorientasi akhirat dengan mengkader ulama-ulama saja, namun, dengan keberhasilan tokoh-tokoh tesebut menunjukkan bahwa dalam tradisi pesantren tidak mengenal sekularisme (pemisahan antara agama dan negara), namun, antara ulama dan umara’ terdapat sinergitas. Hal ini selaras dengan risalah agama tauhid yang dibawah oleh Nabi Muhammad yang tidak mengenal sekularisme. Dalam pendekatan yang dilakukan Walisongo, hal ini  terungkap dalam istilah populer “Sabdo Pandito Ratu” yang artinya menyatunya pemimpin agama dan negara

Kesimpulan penulis di atas, juga didukung oleh fakta, bahwa sebagaimana yang diungkapkan Mastuhu (1994:58) bahwa karakteristik nilai yang dianut pesantren adalah (1) nilai-nilai agama yang memiliki kebenaran mutlak, yang berorientasi kepada kehidupan ukhrawi, dan (2) nilai-nilai agama yang memiliki kebenaran relatif, bercorak empiris dan pragmatis untuk memecahkan masalah-masalah kehidupan sehari-hari menurut hukum agama. Mutiara nilai dalam karakterisik pesantren inilah menurut Ismail SM (2002:56), yang membawa para alumni mampu bertahan solid dengan siraman ahklak al-karimah pada saat hidup di masyarakat yang senantiasa berubah dan dinamis.

Persentuhan Pesantren dengan Globalisasi

Persentuhan dunia pesantren dengan arus globalisasi saat ini, membuat institusi pesantren mengalami persoalan yang krusial dan dilematis. Kondisi ini dinilai menjadi salah satu faktor menurunnya peran pesantren baik sebagai institusi pendidikan maupuan lembaga transformasi sosial (menurut Sahal Mahfudz pesantren mempunyai dua potensi besar, yaitu sebagai institusi pendidikan dan transformasi sosial).

Pertama, Pesantren sebagai institusi pendidikan, menurut Saefudin Zuhri (1999:222-223), dewasa ini dalam dunia pesantren masih terjadi kemandegan befikir, kitab kuning yang dikembangkan di pesantren lebih berorientasi fiqh-minded (aspek legal-formal) ketimbang aspek subtansial (ruh atau spiritnya), dan metode mengajar yang masih cendrung monoton dan menggunakan pendekatan doktrinal, serta tujuan pembelajaran masih berorientasi pada materi bukan tujuan, dan

Kedua, Pesantren sebagai lembaga transformasi sosial, menurut Saefudin Zuhri, telah tercipta jurang pemisah yang lebar antara masyarakat dan pesantren. Pesantren seolah-olah telah membentuk “komunitas eksklusif” yang tidak mau lagi bersentuhan dengan masyarakat sekitarnya. Maka tidak mengherankan bila pesantren yang semula dilahirkan oleh masyarakat pada akhirnya tidak mampu lagi mengubah kehidupan masyarakat dengan nilai-nilai yang ditawarkannya. Yang lebih kontras lagi menurut Saefudin Zuhri adalah bahwa, di beberapa daerah tertentu, telah tercipta hubungan yang tidak harmonis antara pesantren dan masyarakatnya.

Realitas pesantren di atas, menunjukkan bahwa pesantren sebagai institusi pendidikan masih mengalami kemandekan berfikir dalam mengembangkan manajmen lembaga dan pembelajarannya,  disisi lain, sebagai lembaga transformasi sosial pesantren mengalami penurunan peran. Apakah hal ini akan dibiarkan terus berlarut-larut? Dengan kemaun besar dan usaha cerdas pesantren akan mampu meningkatkan daya saing nya sebagai institusi pendidikan, sekaligus meningkatkan perannya sebagai lembaga transformasi sosial.

Namun, berbeda dengan dengan “persepsi” Saefudin Zuhri di atas yang lebih menonjolkam “kelemahan pesantren”, menurut Abdurrahman Mas’ud (2002:26-33) , dari sejarah panjang perkembangan pesantren sejak abad 15-16 yang diprakarsai oleh Walisongo, lembaga pendidikan ini memiliki karateristik utama budaya pesantren, diantaranya:

Pertama, Modeling. Modeling disini dalam ajaran Islam bisa diidentikkan dengan uswatun hasanah atau sunnah hasanah yakni contoh yang ideal yang selayaknya dan seharusnya diikuti dalam komunitas ini. Jika dalam dunia Islam, Rasulallah adalah pemimpin dan panutan sentral, dalam masyarakat santri Jawa kepemimpinan Rasulallah diterjemahkan dan diteruskan oleh Walisongo yang menjadi kiblat kedua setelah Nabi. Kekuatan modeling didukung dan sejalan dengan value system jawa yang mementingkan paternalism dan patron-client relation yang sudah mengakar dalam budaya masyarakat Jawa. Approach dan wisdom Walisongo kini terlembagakan dalam esensi budaya pesantren dengan kesinambungan dan kesejarahannya.

Kedua, Cultural resistance (mepertahankan budaya). Mempertahankan budaya dan tetap bersandar pada ajaran dasar Islam adalah budaya pesantren yang sudah berkembang berabad-abad. Budaya pesantren ini adalah (1) keyakinan tentang hidayah dan berkah seorang kiyai, (2) Pengajaran kitab kuning, yang isinya menawarkan kesinambungan tradisi yang benar, al qadim al-salih, yang mempertahankan ilmu-ilmu agama dari sejak periode klasik dan pertengahan, dan (3) ketegaran dalam menghadapi hegemoni dari luar, dan

Ketiga, Budaya keilmuan yang tinggi. Dunia pesantren senantiasa identik dengan dunia ilmu. Rujukan ideal keilmuan dunia pesantren cukup komperhensif yang meliputi inti ajaran dasar Islam itu sendiri yang bersumber dari Al-Qur’an Hadis, tokoh-tokoh ideal zaman klasik seperti Imam Bukhari, serta tradisi lisan yang berkembang senatiasa mengagungkan tokoh-tokoh ulama Jawa yang agung seperti Nawawi al-Bantani, Mahfudz al-Tirmisi dan lain-lain.

Sisi Positif dan Negatif Globalisasi Bagi Dunia Pesantren

Terlepas dari persepsi negatif dan positif terhadap pesantren di atas, dunia pesantren mamasuki milenium ketiga ini menghadapi berbagai permasalahan pelik karena perubahan dalam masyaralat yang compelexity dan uncertain__meminjam istilahnya Mulyasa. Hal ini merupakan implikasi dari fenomena globalisasi yang telah membuka batas-batas fisik (teritorial) negara dan bangsa, dipertajam dengan perkembangan dunia industri dan perkembangan teknologi super canggih dengan akselerasianya yang sangat cepat. Bagi pesantren sebagai subkultur pendidikan Indonesia menurut Nunu Ahmad, dkk, dari sisi postifnya, fenomena globalisasi ini akan memudahkan pendidikan kita mengakses berbagai informasi dan menyebarluaskan produk-produk keilmuan. Namun disisi  negatifnya, ternyata globalisasi tidak hanya mempengaruhi tatanan kehidupan pada tatanan makro, namun juga pada tatanan mikro, misalnya terhadap ikatan kehidupan sosial masyarakat (Nunu Ahmad An-Nahidl, dkk., 2010:xi). Adapun menurut Mudji Sutrisno (1994:178), sisi negatif dari globalisasi ialah: (1) kecenderungan untuk massifikasi, penyeragaman manusia dalam kerangka teknis, sistem industri yang menempatkan semua orang sebagai mesin atau sekrup dari sebuah sistem teknis rasional; (2) sekularisme, yang berarti tidak diakuinya lagi adanya ruang nafas buat yang Ilahi, atau dimensi religius dalam hidup kita; (3) orientasi nilainya yang menomorsatukan instant solution, resep jawaban tepat, cepat, langsung.

Dengan relitas globalisasi dan kontinuitas segala kemungkinan perubahan yang akan terjadi dalam masyarakat ini, tanpa adanya peningkatan dan penyeimbangan (dengan tuntutan globalisasi) dalam dunia pesantren, maka benar apa yang dikatakan Eko Supriyanto dkk, dunia pendidikan kita akan terjebak pada situasi blunder, yaitu munculnya keadaan dimana pendidikan justru menjadi beban masyarakat dan negara, akibat munculnya pengangguran dari pendidikan yang tidak produktif dan drilling (Eko Supriyanto, 2009: 9).

Sebelum lebih jauh kita membahas eksistensi pesantren, perluh kita sadari, era globalisasi adalah produk pembangunan yang dimotori oleh Barat selaku pemengang konstelasi dunia dalam bidang iptek dan ekonomi. Konsep dasar globalisasi menurut Supriyoko dalam Idi dan Suharto terdiri dari beberapa aspek berikut: (1) ketergantungan, dalam masalah sosial, politik, dan budaya, (2) peran strategis informasi, dan (3) era industri sebagai kemajuan bangsa (Abdullah Idi & Toto, 2006: 102-103).

Fenomena di atas, menunjukkan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan di era dewasa ini, dimotori oleh dunia barat, bukan dunia Islam. Padahal pada zaman keemasan Bani Abbasiyah, dunia Islam mengalami kemajuan yang sangat pesat dalam bidang ilmu pengetahuan. Bahkan menurut Prof Abdul Karim (2007:172), dari segi pendidikan, ilmu pengetahuan termasuk science, kemajuan peradaban, dan kultur pada zaman ini bukan hanya identik sebagai masa keemasan Islam, akan tetapi era ini mengukur dengan gemilang dalam kemajuan peradaban dunia.

Eksistensi Pesantren Sebagai Institusi Pendidikan dan Transformasi Sosial

Dengan perubahan dalam berbagai sektor di era dewasa ini, menjadikan  beberapa pesantren yang  saat ini masih saja mempertahankan pola salafiyah (tradisionalis, konservatif) yang dianggapnya masih sophisticted (mutakhir) dalam menghadapi persoalan sosial, tertatih-tatih dalam mengimbangi akselerasi kemajuan teknologi informasi dan berbagai sektor dalam kehidupan manusia.

Untuk mengimbangi kemajuan dan perkembangan zaman ini, Menurut Zamroni (2000:90-91), dibutuhkan pendidikan yang berwawasan global, pendidikan yang memiliki nilai lentur terhadap perkembangan zaman namun muatan nilai-nilai moral keagamaan tetap terpatri di dalamnya.

Terlepas dari kelebihan dan kekurangan yang masih ada dalam pesantren, dalam mempertegas eksistensi dan meningkatan daya saing pesantren terdapat dua hal subtansial yang harus di diperbaiki, yaitu sebagai institusi pendidikan maupun sebagai tranformasi sosial.

Dalam transformasi pesantren sebagai institusi pendidikan, menurut Kamaruzzaman (2017:144-146), terdapat empat agenda mendesak dalam pengembangan pesantren pada masa yang akan datang: (1) Para santri harus diajarkan metodologi studi Islam, yaitu ilmu-ilmu bantu seperti: Hermeneutika, Sejarah, Bahasa, Antropologi, Filsafat dan Sosial; (2) Para santri diarahkan untuk mengkaji tradisi keilmuan karya-karya klasik lintas mazhab; (3) Pesantren harus membuka diri terhadap kajian Islam baik dari Timur maupun Barat; dan (4) Pengadaan perpustakaan yang memiliki berbagai buku dan jurnal ilmiah, baik yang berbahasa Indonesia maupun asing (Inggris, Arab, dan Prancis). Dalam konteks transformasi sosial pesantren, lembaga ini harus kembali kepada khittahnya, yaitu pesantren yang di bawah dan dikembangkan oleh Walisongo, yang disamping sebagai institusi pendidikan, pesantren juga berperan sebagai lembaga transformasi sosial (peningkatan ekonomi masyarakat dan pembinaan moralitas masyarakat).

Dalam pemahaman yang lebih konperhensif, untuk mempertegas eksistensi dan meningkatkan daya saing pesantren dalam percaturan globalisasi, pesantren harus tetap bepegang kepada khittahnya (berbasis falsafah Islam) namun harus membuka diri terhadap pembaharuan (berwawasan global). Hal ini bisa dirinci dalam beberapa hal berikut:

Pertama, menjadikan al-Qur’an  dan hadits sebagai rujukan utama dalam proses pendidikan di pesantren. Menurut Noeng Muhadjir (2002: 265),  menyebutkan bahwa  Al-Qur’an  bersifat multidimensional,  yang  berarti  ayat (bukti),  isyarat,  hudan  (petunjuk),  dan rahmah  bagi  manusia  dalam berperilaku,  berfikir,  berniat,  dan dalam  meneguhkan  keimanannya kepada  Allah.  Al-Qur’an  selain berfungsi  sebagai  hudan  (petunjuk), juga  berfungsi  sebagai  furqan  sebagai tolok  ukur  dan  pembeda  antara  yang hak dan yang batil.

Agar pemahaman santri semakin utuh terhadap al-Qur’an, pada tingkat tertentu kyai atau ustad mengajarkan tafsir al-Qur’an, salah satu tafsir yang paling terkenal di kalangan santri adalah tafsir jalalin. Namun, di samping itu masih ada beberapa tafsir lain yang di harus diajarkan, misalnya tafir ibnu kastir, sofwatut tafasir, tafsir al-Maraghi, Al-Misbah dan lain-lain.

Di samping itu, hadits sebagai sumber kedua umat Islam, juga harus di jadikan salah satu pelajaran wajib di lingkungan pesantren, diantaranya kitab hadits yang sering di pelajari di pesantren, antara lain: shahih Bukhari, shahih Muslim, Riyadush shalihin, bahkan hadits-hadits yang diriwayatkan kaum syiah juga perluh dipelajari, dan sebagainya.

Kedua, Pengajian kitab sebagai ciri khas pesantren. Pada masa lalu, pengajaran kitab Islam klasik digolongkan ke dalam 8 kelompok jenis pengetahuan: (1) nahwu dan shorof; (2) fiqh; (3) fiqh; (4) ushul fiqh; (5) hadist; (6) tafsir; (6) tauhid;  (7) tasawuf dan etika, dan (8) cabang-cabang lain seperti balaghah. Umumnya sistem pengjaran yang digunakan adalah sorogan dan bandongan. Namun di sisi lain, pesantren juga harus membuka diri dengan literatur-literatur dalam multi-disiplin ilmu, seperti kitab-kitab ilmu pengetahuan yang berkembang pesat pada zaman bani Abbasiyah, buku-buku filsafat, dan buku-buku atau kitab-kitab terbaru karya ilmuan atau ulama-ulama kontemporer.

Ketiga, Meningkatan kualitas guru. Guru merupakan kunci utama keberhasilan pendidikn. Untuk itu, maka pesantren juga harus memberikan perhatian serius pada penyiapan tenaga-tenaga pendidikan yang mempunyai kompetensi pedagogik, sosial, kepribadian, profesional, dan leadership.

Keempat, Berorientasi kepada tujun awal pendidikan pesantren  “menciptakan dan mengembangkan kepribadian muslim”, yaitu kepribadian yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan, berakhlak mulia, bermanfaat bagi masyarakat atau berkhidmat kepada masyarakat dengan jalan menjadi kawula atau abdi masyarakat tetapi rasul, yaitu menjadi pelayan masyarakat sebagaimana kepribadian Nabi Muhammad  (mengikuti sunnah Nabi), mampu berdiri sendiri, bebas dan teguh dalam kepribadian, menyebarkan agama atau menegakkan Islam dan kejayaan umat Islam di tengah-tengah masyarakat (‘izzul Islam wal Muslimin), dan mencintai ilmu dalam rangka mengembangkan kepribadian yang ingin dituju ialah kepribadian muhsin (seseorang yang perilakunya lebih mendalam dari muslim. Pengabdiannya kepada Tuhan dilakukan semata-mata karena rasa cinta kepada-Nya, tanpa ada rasa kepentingan dan takut, dan rasa cinta itu sudah mendarah daging merupakan bagian dari beological mechanismnya), bukan sekerdar muslim (Mastuhu, 1994: 55-59), dan

Kelima, kembali kepada fungsi utama pesantren, pesantren memiliki tiga fungsi (Mastuhu, 1994: 59-60): (1) Sebagai lembaga pendidikan, pesantren menyelenggarakan pendidikan formal (madrasah, sekolah umum, dan perguruan tinggi), dan pendidikan non-formal yang secara khusus mengajarkan agama. (2) Sebagai lembaga sosial,  pesantren menampung dari segala lapisan masyarakat muslim, tanpa membeda-bedakan tingkat sosial-ekonomi orang tuanya. Dan (3) Sebagai lembaga penyiaran agama, masjid pesantren juga berfungsi sebagai masjid umum, yaitu sebagai tempat belajar agama dan ibadah bagi masyarakat umum.

*Alumni MA Al Ittifaqiah 2011 dan Anggota IKAPPI Jogja

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *