Peran Santri Dalam Merawat Marwah Toleransi

Peran Santri Dalam Merawat Marwah Toleransi

Oleh: Dini Astriani*

Berbicara toleransi, sejatinya sejak negara ini berdiri telah menjadi ciri khas kepribadian masyarakat Indonesia, yaitu masyarakat yang toleran. Hal ini bisa kita dari historisitas Indonesia yang secara agama multi-religious, baik internal (Islam terdapat berbagai mazhab) , sedangkan secara eksternal kita mengenal enam “agama resmi”Negara, yakni Kristen, Katolik, Islam, Hindu, Budha dan Konghucu. Sementara agama-agama non resmi seperti agama-agama suku dan keyakinan-keyakinan lokal seperti Kaharingan di Kalimantan, Sunda Wiwitan di Cirebon, Parmalin di Sumatra, Wetu Telu di Lombok tidak diakui sebagai agama. Bersama-sama dengan Penganut Pengasih, Sapto Dharmo, dan lainnya di Jawa dikenal dengan sebutan penganut penghayat kepada Tuhan yang Maha Esa dan bagian dari kebudayaan. (Zuly Qodir, 2017).

Namun, dewasa ini, menilik problem kemasyarakatan, banyak terjadi radikalisasi pemahaman keagamaan dan praktek intoleransi yang sudah keluar dari ambang batas. Isu terkait hal tersebut begitu sensitif dalam beberapa tahun terakhir , ini menjadi pekerjaan rumah bagi setiap elemen masyarakat setidaknya untuk keluar dari zona tersebut . Kita sekarang hidup ditengah-tengah masyarakat yang multikultur dan multi agama, menjadi suatu capaian yang progresif jika kita mampu untuk selalu menjaga keutuhan masyarakat , bangsa dan Negara.

Sejatinya problem pemahaman keagamaan sudah muncul dan terjadi cukup lama di Indonesia, jika kita flashback peristiwa seputar konflik akibat radikalisasi pemahaman keagamaan di Indonesia, sudah banyak peristiwa yang seringkali terjadi, akan tetapi tetap tidak bisa dipungkiri dalam prakteknya akan terus terjadi meskipun sudah dibuat ketentuan konstitusi dalam UU No. 39/ 1999 tentang Hak Asasi Manusia, terutama dua ayat di pasal 22 yang berbunyi “ setiap orang bebas memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadatmenurut agamanya dan kepercayaan itu” dan “ Negara menjamin kemerdekaan setiap orangmemeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaan itu” .

Meskipun sudah menjadi rahasia umum bahwa Indonesia mempunyai asas pancasila dan kebhinekaan akan tetapi sejauh ini problem seputar radikalisasi pemahaman keagamaan masih sangat sensitif dan seringkali terjadi di Indonesia. Berdasarkan survei Wahid Fondation tahun 2016, sebanya k 7, 7 persen muslim di Indonesia bersedia melakukan tindakan radikal bila ada kesempatan dan sebanya k 0, 4 persen justru pernah melakukan tindakan radikal. Namun, meski hanya sebesar 7, 7 persen, persentase tersebut cukup mengkhawatirkan. Sebab jika dikalkulasikan terdapat sekitar 11 juta umat Islam Indonesia yang bersedia bertindak radikal.

Banyak penyebab yang dapat menimbulkan radikalisasi pemahaman keagamaan dan khususnya prektek intoleransi di Indonesia antara lain, problem kesukuan, perbedaan doktrin dan sikap mental, mayoritas dan minoritas, perbedaan tingkat kebudayaan dsb. Pertumbuhan gerakan radikalisme berjubah agama tersebut tentu tidak boleh disepelekan. Sebab, agama bisa dijadikan pembentuk kekuatan dahsyat dalam membangkitkan identitas emosional massa dibandingkan identitas sosial lain. Agama bisa memicu konflik bereskalasi mengerikan dengan intensitas tinggi, yang bisa memecah belah persatuan bangsa.

Oleh karena itu, kita sebagai santri yang merupakan kalangan terpelajar dan telah dibekali pemahaman agama yang cukup selam nyantri, harus peka dan mampu memberikan solusi konstruktif terhadap problem yang terjadi, harus ada upaya yang dilakukan untuk mereduksi laju perkembangan radikalisme agama di Indonesia, Beberapa hal itu diantaranya:

Pertama, menghadirkan pemahaman keagamaan yang moderat. Hal ini menjadi penting, karena dalam setiap agama selalu saja ada kelompok yang memahami agamanya secara kaku, sehingga memunculkan sikap-sikap fundamentalistik dan radikalis yang cenderung pro-kekerasan. Karena itulah mereka, atas nama agama, sanggup melakukan aksi-aksi keji yang destruktif. dan

Kedua, mendorong pemerintah untuk memperkuat penegakan hukum atas penyebar paham radikalisme agama. Tanpa penegakan hukum yang tegas dan bersifat preventif, pertumbuhan radikalisme agama akan terus berkembang dengan pesat . Upaya penegakan hukum yang tegas dan bersifat preventif ini misalnya bisa dilakukan dengan cara mewaspadai upaya penyebaran faham radikalisme melalui jejaring sosial seperti Facebook, Twitter , dan Youtube atau memonitor secara terus-menerus kelompok-kelompok tertentu di masyarakat yang diduga menjadi wadah pengkaderan teroris.

Sebagaimana kita pahami problem radikalisasi pemahaman keagamaan bukan hanya terjadi akibat propaganda suatu golongan tertentu dalam dunia nyata, akan tetapi di dunia maya begitu gencar-gencarnya propaganda-propaganda yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, khususnya penyebaran ideologi dan paham radikal. Hal ini sangat penting untuk direduksi bersama, karena saat ini media sosial (dunia maya) sangat banyak dikonsumsi oleh masyarakat khususnya para pemuda dan mahasiswa, dan itu menjadi senjata yang cukup tajam bagi oknum yang mempunyai berbagai kepentingan untuk merusak kestabilan masyarakat. Maka dari itu, diharapkan seluruh elemen bangsa; pemuda, mahasiswa dan masyarakat sipil ( civil society) terutama kalangan santri untuk selalu bahu-membahu di dalam menanggulangi problem pemahaman keagamaan yang terjadi, karena hal itu merupakan tugas wajib masyarakat dan Negara sesuai amanat UUD 1945, sehingga kita bisa mereduksi radikalisasi paham keagaman dan praktek intoleransi itu sendiri. Dengan harapan marwah toleransi yang sudah dari dahulu melebur dalam masyarakat kita, baca: ( Indonesia) selalu eksis dan survive sepanjang zaman. Wallahu’ alam bissawab.

Identitas Penulis

*Mahasiswi UIN sunan kalijaga prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir /Alumni PPI. : Angkat an 50 jurusan IPK

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *